Sabtu, 19 Februari 2011

Momen Indah untuk Merenung

Oleh: Afrinaldo

Sebuah peristiwa alam yang unik dan terlalu indah untuk dilukiskan. Dimana langit berwarna kuning keemasan. Momen dimana sang Khaliq mengganti kondisi terang menjadi kondisi yang gelap. Momen yang menakjubkan! Dimana Allah menunjukkan salah satu tanda kekuasaan-Nya pada manusia agar manusia bersyukur kepada-Nya. “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam…”(QS. Ali Imron:27). Dalam gelap manusia bisa beristirahat, dalam gelap manusia bisa terlelap, dan dalam gelappun manusia menitipkan harap, agar selamat ketika datang waktu manusia untuk di hisab.

Waktu yang telah kita lalui tidak akan pernah kembali lagi. Itu kenyataannya. Namun, yang perlu kita pikirkan adalah sudah berapa banyak waktu kita terbuang untuk kesia-siaan dan berapa banyak waktu sudah kita manfaatkan untuk kebaikan. Karena akan tiba saatnya, jatah waktu ini akan diminta pertanggung jawaban oleh Yang Maha Memiliki segalanya. Ketika saat itu datang, banyak jiwa-jiwa yang akan menyesal akibat waktu yang telah dibuang sia-sia.

Setiap manusia mempunyai dua wadah dasar yang relatif sama, waktu dan fisik. Tapi setiap orang mengelola keduanya, itulah yang memberikan hasil yang berbeda. Waktu adalah kehidupan. Setiap manusia diberikan kehidupan sebagai batas masa kerja dalam jumlah yang berbeda-beda, yang kemudian kita sebut dengan umur yang terbentang dari kelahiran hingga kematian. Tidak ada manusia mengetahui akhir dari batas masa kerja itu, yang kemudian kita sebut ajal. Hal itu menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi itulah aset paling berharga yang kita miliki (Anis Matta).

Dalam kenyatannya banyak manusia –terutama umat Islam– sangat tidak menghargai waktu yang telah Allah berikan. Ketika ingin menyimpan uang di sebuah bank yang terletak di perbatasan dua kota, tampak dengan jelas di papan pengumuman yang tergantung di depan bank bahwa jam istirahat bank mulai jam 12.00-13.30. Namun, waktu telah menunjukkan lebih dari pukul 13.30. banyak nasabah bank yang kepanasan menunggu di luar. Saya memperhatikan sekilas aktifitas nasabah bank yang sedang menunggu. Ada ibu hamil yang berdiri dengan anaknya, ada dua orang laki-laki yang asyik membicarakan tentang Pilkada yang sebentar lagi akan digelar,  ada yang sedang menelpon, dan macam-macam aktifitas lainnya. Dari sekian banyak nasabah yang menunggu, tidak satupun yang saya temui berusaha memanfaatkan waktu menunggu untuk aktifitas berguna seperti membaca buku. Mungkin inilah salah satu kelemahan bangsa Indonesia. Kita perlu banyak berkaca kepada bangsa Jepang. Dalam kereta api, restoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan tempat lainnya banyak kita temukan  orang-orang yang sedang asyik membaca buku. Inilah kunci suksesnya. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Tidak ada fisik yang terdiam percuma. Dan Rasulullah Saw. sudah jauh-jauh waktu mengingatkan kepada kita supaya jangan menyia-nyiakan aset berharga yang kita miliki ini. “Manusia banyak terkecoh dalam dua hal, kesehatan dan waktu luang.” (HR. Imam Bukhari).

Sekarang kembali tanyakan kepada diri kita. Sudah berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia dan sudah berapa banyak waktu yang telah dimanfaatkan untuk kebaikan. Ada baiknya kita mencontoh perilaku Amirul Mukminin Umar bin Khatab r.a. Setiap beliau ingin keluar rumah, ada kebiasaan unik yang selalu dilakukannya. Beliau membawa kantong atau tas yang selalu dibawanya kemana-mana. Setiap beliau merasa melakukan sebuah kemaksiatan, maka dimasukkannya batu kecil ke dalam kantong yang dibawanya. Dan saat merasa melakukan sebuah kebajikan, maka dikeluarkannya satu batu kecil dari kantongnya. Ketika malam tiba, Amirul Mukminin Umar bin Khatab r.a memeriksa kondisi kantong yang seharian dibawanya. Jika ada batu di dalamnya, beliau mengeluarkannya satu per satu sambil beristighfar memohon ampun kepada ALLah Swt. Ini salah satu gambaran sahabat Rasulullah Saw. yang telah dijamin masuk surga. Begitu teliti beliau dalam menghitung setiap kebaikan dan kemaksiatan yang telah dilakukannya. Lalu bagaimana dengan kita, belum ada jaminan dari Allah untuk bisa masuk surga, belum ada amalan terbaik yang bisa kita banggakan dihadapan Allah Swt, berapa banyak dosa telah kita perbuat kepada-Nya. Tapi apa yang telah kita perbuat dalam setiap detik waktu yang telah diberikan Allah Swt. kepada kita.

Ibarat menempuh sebuah perjalanan yang panjang, fisik kita berfungsi sebagai kereta, dan waktu yang terbentang jauh atau dekat, seperti rel kereta. Seorang masinis boleh menentukan stasiun terakhir yang kita tuju, tetapi dia harus menjamin bahwa kereta yang dikemudikannya dan rel yang akan dilewatinya benar-benar dalam keadaan baik. Masinis itu adalah diri kita. Sekarang kitalah yang akan menentukan akhir dari perjalanan ini. Apakah kita lebih memilih keluar dari rel yang telah ditentukan, atau memilih untuk konsisten berjalan di atas rel yang akan membawa kita sampai ke stasiun akhir kehidupan yang indah dan penuh dengan sambutan terbaik yang belum pernah sekalipun kita rasakan di atas dunia ini. Wallahu’alam. 

0 komentar:

Posting Komentar