Oleh : Afrinaldo
Senin, 7 Februari 2011
Dalam sebuah agenda rapat salah satu LDK, saya diundang sebagai pembicara. Saat pimpinan rapat menawarkan kepada peserta rapat yang hadir untuk membaca ayat suci alqur’an, diantara yang hadir saling menunggu akan ada yang mulai membaca Al-quran. Melihat kondisi yang demikian, tanpa ragu-ragu saya langsung memulai membaca Al-quran sekaligus membaca artinya. Setelah saya diberikan kesempatan untuk memberikan pengarahan, saya kemudian menjelaskan kepada semua yang hadir rapat kenapa saya yang diundang untuk menjadi pembicara tiba-tiba langsung merespon perintah membaca Al-quran tanpa terlebih dahulu menawarkan diri.
Kebanyakan dari kita, aktivis dakwah kampus. Ketika ada peluang untuk menambah perbendaharaan amal sebagai bekal menghadap sang Khalik masih banyak yang ragu-ragu dan tidak siap untuk menyambut peluang beramal. Padahal, baik orang yang membaca maupun yang mendengarkan ayat-ayat Al-quran akan diberi ganjaran pahala oleh Allah Swt. Tapi terkadang, kebanyakan dari kita berpkiran, “yang lain mungkin sudah ada yang nyiapin Al-quran”, “ah biar yang lain aja”, “gak ah bacaan al-quran saya masih kurang bagus”, dan banyak lagi alasan lainnya.
Kebiasaan ragu-ragu dan tidak tanggap dalam menangkap peluang kebajikan ini akhirnya berimbas terhadap keseluruhan aktivitas amal kita. Banyak aktivis dakwah yang tidak hadir rapat dan kegiatan karena alasan sudah ada banyak dan akan ada banyak yang menghadirinya. Namun dalam kenyataannya, kita kemudian membiarkan saudara-saudara kita melakukan pekerjaan yang banyak sendirian dengan tenaga dan ide-ide yang sedikit dan terbatas. Kemudian apa yang kita lakukan di saat yang bersamaan. Kita lebih mementingkan diri sendiri dan nyaman dengan melakukan aktivitas yang masih ada banyak waktu untuk menyelesaikannya. Ada dari kita yang lebih memilih berkumpul dengan teman-teman sekelas, duduk di dalam warnet-warnet yang ber-AC, menonton film dan siaran TV kesukaan, dan lebih parahnya ada yang lebih memilih untuk istirahat bahkan lebih memilih melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt ketimbang berlomba-lomba untuk berbuat kebajikan, naudzubillah.
Kepada kader dakwah yang beralasan sibuk dengan tugas dan aktifitas kuliahnya saya kembali ingatkan kepada kita semua, bukankah Allah telah mengatakan, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad:7). Nah, sekarang saya bertanya kepada kita semua, bukankah kita sekarang melakukan aktifitas dakwah, mengajak orang kepada kebaikan, memperluas kebajikan dengan cara yang lebih rapi dan terorganisir, dan bukankah kita sedang merealisasikan agama yang merupakan rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini agar tegak di bumi Allah. Seperti yang telah dikatakan-Nya: “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(QS. Al-Fath:28).
Marilah sejenak kita renungkan kembali janji yang telah Allah sampaikan kepada Rasul-Nya ini. Siapakah yang lebih tepat janjinya daripada Allah? Bukankah sudah banyak contoh dari para sahabat yang dijamin kehidupan dunia dan akhiratnya oleh Allah Swt. Pernah seorang panglima perang pada zaman Khalifah Umar bin Khatab dicopot dari jabatannya tanpa pemberitahuan awal di saat perang sedang berkecamuk, namun semangat juangnya tetap sama bahkan melebihi daripada saat ia menjabat sebagai panglima perang. Setelah perang dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin, beliau ditanya oleh para sahabat, “mengapa engkau tidak marah atas perlakuan Umar terhadapmu, bahkan jika engkau mau pasukan ini akan membantumu untuk menyerang Khalifah Umar bin Khatab yang sudah menurunkanmu dari jabatanmu?” Namun, inilah kelebihan dan keistimewaan generasi yang dibina langsung oleh RAsulullah Saw. Panglima perang yang digantikan jabatannya pada saat perang berkecamuk kemudian melontarkan argumen yang patut dan harus kita teladani bersama, “Sesungguhnya aku berjuang bukan karena Umar dan bukan karena siapa-siapa, tapi aku berjuang karena ini adalah seruan dari Allah Swt.” Apakah ada balasan yang lebih baik daripada jaminan hidup mulia di dunia dan jannah (surga) dari Allah Swt.?
Ketika kita melakukan berbagai aktifitas di tempat kerja, bangku perkuliahan, pasar, lahan pertanian, dan di belahan bumi Allah manapun. Maka yakinlah!, selama kita masih mengajak orang kepada kebaikan karena Allah, niscaya Allah akan menolong kita, memudahkan turunnya rezeki, mengajarkan ilmu yang sangat sulit untuk dipelajari, menjadikan bumi ini tempat yang bersahabat bagi manusia, menjadikan orang lain cinta kepada kita, dan meneguhkan kedudukan kita dengan cara terindah menurut kekuasaan-Nya. Dia-lah Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa atas segalanya. Jika banyak di antara kita yang punya kemauan dan komitmen untuk memperbaiki kualitas diri, insya Allah kualitas bangsa juga akan meningkat, kualitas ummat juga meningkat. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menebar kebaikan, maka akan semakin banyak pikiran dan perbuatan negatif yang tereliminasi. sehingga akhirnya memberi keberkahan buat semua. Marilah berlomba-lomba menyambut seruan dan peluang untuk menebar kebajikan sebanyak-banyaknya. Wallahu’alam.





0 komentar:
Posting Komentar