Senin, 14 Februari 2011

Canggung di Permulaan, Angkuh Kemudian

Saat pertama kali kita belajar mengendarai sepeda, ada rasa canggung dan cenderung lebih hati-hati dalam mengendarainya. Ketika sudah agak mahir kita mulai mencoba mengendarainya di jalan yang ramai dengan kendaraan, maka setiap berhadapan dengan sepeda motor atau mobil akan ada rasa was-was dan khawatir karena kemampuan kita bersepeda belum terlalu mahir. Saat berpapasan dengan kendaraan di jalan yang sempit, kita takut jika nantinya tersenggol atau tertabrak kendaraan dan mungkin lebih memilih untuk berhenti sejenak hingga jalan sempit tersebut tidak lagi dilalui kendaraan.

Seiring berjalannya waktu, kitapun semakin mahir dalam mengendarai sepeda dengan berbagai macam kondisi jalan yang dilalui. Karena sudah sangat mahir mengendarai sepeda, kitapun ingin mencoba ber-atraksi dengan cara mengangkat roda depan sepeda saat berkendara, ngebut di jalanan, dan cara lain yang lebih menantang. Bahkan, kita mulai tertarik untuk mengendarai sepeda motor dan begitu seterusnya. Inilah yang kita rasakan pada saat belajar mengendarai sepeda, walaupun dengan pengalaman yang berbeda-beda.


Hal yang sama juga kita alami saat menjalani setiap potongan kehidupan. Pada saat pertama kali menjalani perkuliahan, memulai bisnis baru, atau hari pertama masuk kerja, rasa canggung senantiasa menggelayuti kita. Karena itu, kita cenderung bertindak hati-hati dan bersikap ramah agar tidak salah dalam bekerja. Namun, seiring bertambahnya waktu dan pengalaman hidup, kita cenderung melupakan sikap hati-hati dan sikap ramah yang kita dapatkan pada saat awal belajar menjalani aktivitas dan pekerjaan yang baru dijalani. Mahasiswa yang telah senior berlaku sewenang-wenang terhadap mahasiswa yang baru masuk, seorang atasan memaki-maki bawahannya yang tidak mencapai target pekerjaan yang telah direncanakan, dan karena ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, seorang pedagang rela memanipulasi timbangan, bahkan mau berbohong agar barang dagangannya laku di pasaran. Banyak godaan yang menghampiri ketika kita berada di tengah perjalanan hidup. Jika tidak dibarengi dengan keimanan yang kuat, maka hidup yang kita lalui bisa jadi akan menjadi malapetaka bagi kehidupan orang lain, dan itu jarang kita sadari. Maka, yang harus kita lakukan adalah jangan pernah berhenti menjadi pembelajar agar kita menjadi orang yang memiliki kerendahan hati. Seperti ilmu padi, semakin berisi akan semakin merunduk. Wallahu’alam.



Oleh: Afrinaldo
Afrinaldo108@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar