Selasa, 08 Februari 2011

Antara Harapan dan Realita


Oleh: Afrinaldo
Kamar pribadi, Jum’at 4 februari 2011, pk. 13.45.


Momen sholat jum’at hari ini agak berbeda dari biasanya. Saya tiba dengan kondisi mesjid yang sudah penuh dengan kaum muslimin yang hendak menunaikan sholat jum’at. Singkat cerita, saya harus menempati posisi shaf yang paling belakang karena semua shaf di depan sudah dipadati kaum muslimin. Sungguh sangat jarang sekali saya berada pada shaf paling belakang di setiap pekannya semenjak empat tahun yang lalu saya bertekad untuk komitmen melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, apapun dan bagaimanapun kondisinya.

Yang menjadi menarik untuk disimak, disinilah babak awal ceritanya. Saat sang Khatib menyampaikan khutbah jumat, terdengar suara percakapan antara dua orang pemuda yang mempengaruhi konsentrasi orang banyak yang berada di sekelilingnya untuk mendengarkan warisan nasehat dari sang Khatib. Fenomena ini mungkin terjadi di setiap pekannya. Dan bukan suatu hal yang mustahil ini juga terjadi di seluruh mesjid yang ada di Indonesia. Padahal, khutbah adalah rangkaian yang tidak terpisahkan dari kewajiban sholat jum’at yang harus dilaksanakan seorang muslim. Jika ada satu rangkaian yang diabaikan, maka akan sangat mempengaruhi kualitas dari ibadah yang dijalankan. Terlepas dari apakah khatib tidak menarik untuk dilihat, penyampaiannya sangat kaku dan datar, suaranya tidak terdengar ke seluruh sudut mesjid, dan lain sebagainya. Dalam pikiran saya, barangkali yang bicara tidak tahu kalau khutbah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sholat jum’at, mungkin meniru apa yang juga dilakukan orang dewasa yang dilihatnya, tidak merasa bersalah karena tidak ada yang menegurnya, dan berbagai alasan lain yang membuat saya tidak berpikir bahwa kesalahan mereka tidak murni berasal dari faktor diri pribadi mereka. Yang demikian adalah bagian dari sebuah proses kehidupan yang jauh dari kata sempurna, dan itu adalah kenyataannya.

Dalam Islam kita disuruh untuk melaksanakan semua kebajikan murni hanya untuk Allah Swt. Di sisi lain, setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia tidak akan pernah menyerah sampai manusia tersesat dan menuruti semua yang mereka inginkan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan hingga nyawa kita dipanggil kembali oleh Sang Khalik yang Maha memiliki Kehendak. Tinggal bagaimana cara kita mengatasinya dengan cara dan sarana yang telah ditetapkan dan diajarkan oleh Rasul-Nya.

Sampai saat saya membuat tulisan ini, tergambar dalam benak saya bagaimana situasi saudara-saudara muslim yang berada di Palestina, Tunisia, Mesir, Yaman, dan Negara-negara Islam lainnya yang hari ini sedang memperjuangkan kebebasan untuk bisa mendapatkan hak yang seharusnya menjadi milik mereka. Baru saja di tepi barat Jalur Gaza sebuah sekolah yang digunakan oleh 50 murid dan 9 orang guru dihancurkan oleh Yahudi laknatullah ‘alaih setelah sebelumnya mereka kosongkan secara paksa dengan mengusir anak-anak dan guru yang ada di dalamnya. Di Mesir tidak kalah tegangnya. Bentrokan yang terjadi antara ratusan ribu demonstran anti-pemerintahan Hosni Mubarak dengan ribuan demonstran pro pemerintahan yang telah merenggut korban jiwa sebanyak 5 orang dan 1500 orang lainnya luka-luka. Di Tunisia, rakyatnya telah berhasil melengserkan kediktatoran Presiden Zein el Abidin Ben Ali. Begitu juga peristiwa yang terjadi dan akan terjadi di negara-negara islam lainnya.

Hal yang perlu kita cermati adalah akar dari semua permasalahan yang menimpa negara-negara Islam ini. Semuanya berawal dari pengkhianatan pimpinan yang berlangsung selama puluhan tahun. Demi mempertahankan kekuasaan, segala cara dilakukan. Rakyat disuruh taat kepada pemimpin, tapi pemimpin sendiri yang berkhianat kepada rakyat. Ada seseorang atau sekelompok orang yang ingin menyuarakan perbedaan pandangan langsung ditindak bahkan tidak segan-segan untuk dimusnahkan. Apakah ini yang dikatakan termasuk ajaran Islam, yang seharusnya jika ada Imam atau pemimpin yang salah dalam melaksanakan ibadah sholat ketika diingatkan oleh makmum atau pengikutnya maka ia harus menurut dan memperbaiki kesalahan yang dilakukannya. Apalagi ini berkaitan dengan kemaslahan seluruh rakyatnya, bukankah ini sebuah pelanggaran besar.

Orang bijak mengatakan, “Perilaku seorang pemimpin mencerminkan perilaku dari rakyat yang dipimpinnya”. Kalau sudah demikian, apalagi yang diharapkan dari pemimpin yang sudah tidak lagi dipercaya oleh rakyatnya. Maka, yang harus kita lakukan adalah memperbaiki karakter dan kepribadian kita untuk mendapatkan pemimpin yang dengan izin Allah sesuai dengan karakter dan kepribadian kita sebagai rakyatnya. Pemimpin seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. “Pemimpin yang mencintai Allah dan Allahpun mencintai-nya, Pemimpin yang mencintai kalian dan kalianpun mencintainya.” Tegakkan Islam dalam hatimu, maka ia juga akan tegak di atas bumimu. Wallahualam

0 komentar:

Posting Komentar